Home » Akademisi Terkenal AS Dituntut Usai Dinilai Hina Raja Thailand

Akademisi Terkenal AS Dituntut Usai Dinilai Hina Raja Thailand

sponsoredbygod.net – Seorang akademisi terkenal dari Amerika Serikat baru-baru ini menjadi sorotan internasional setelah dituntut oleh otoritas Thailand atas dugaan penghinaan terhadap Raja Maha Vajiralongkorn. Kasus ini mencuat ketika sang akademisi, yang dikenal sebagai pakar studi Asia Tenggara, mempublikasikan artikel ilmiah yang mengkritik peran monarki dalam politik Thailand modern. Tulisan tersebut, yang dipresentasikan dalam konferensi akademik daring pada awal 2025, dianggap melanggar undang-undang lese majeste Thailand—hukum ketat yang melarang pencemaran nama baik terhadap keluarga kerajaan.

Thailand memiliki salah satu undang-undang lese majeste paling keras di dunia, dengan hukuman hingga 15 tahun penjara untuk setiap pelanggaran. Artikel akademisi tersebut, meskipun ditulis dalam konteks analisis akademik, disebut oleh pihak berwenang mengandung pernyataan yang “menyinggung martabat raja.” Pemerintah Thailand mengklaim bahwa publikasi itu telah memicu keresahan di kalangan pendukung monarki.

Sang akademisi, yang berbasis di universitas ternama di AS, membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa karyanya murni ilmiah, bertujuan untuk memajukan diskusi tentang dinamika kekuasaan, bukan menghina individu. Dukungan pun mengalir dari komunitas akademik global, yang menyebut kasus ini sebagai ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan penelitian ilmiah.

Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi lese majeste, yang kerap menjerat aktivis, jurnalis, hingga warga asing. Pada 2011, seorang warga AS pernah divonis 2,5 tahun penjara karena mengunggah konten serupa. Pengalaman menunjukkan bahwa hukum ini sering digunakan untuk membungkam kritik, meski pemerintah Thailand bersikeras itu demi stabilitas nasional.

Hingga kini, akademisi tersebut belum ditahan karena berada di AS, tetapi proses ekstradisi tengah dipertimbangkan. Kasus ini kembali memicu debat global tentang batas kebebasan akademik versus sensitivitas budaya lokal.